Sabtu, 02 Oktober 2010

Unforgetable "Ranu Kumbolo"


Gunung Semeru keliatan



Kenangan di Ranu Kumbolo


Indahnya Ranu Kumbolo



Biru-mu menyejukkan hatiku


Suatu keindahan luar biasa bisa berkunjung ke tempat ini. Lihat saja hamparan rumput yang sangat hijau dan pepohonan. Belum lagi kita disuguhkan dengan udara yang benar-benar sangat segar dan Brbrbr dingin sekali tentunya. Subhanallah, aku menikmati keindahan ciptaan Allah yang luar biasa. Inilah keindahan alam Ranu Kumbolo yang merupakan post peristirahatan untuk mendaki ke Gunung Semeru yaitu Gunung tertinggi di Pulau Jawa. Aku sangat beruntung bisa melihat keindahan ciptaanMu ini ya Rabb. Ranu Kumbolo berada di 2400 m DPL letaknya di Lumajang. Rute perjalanan Lumajang-Senduro-Ranu Pani-Oro oro Ombo-Ranu Kumbolo. Untuk bisa sampai di Ranukumbolo kita harus mendaki rata-rata sekitar 4-5 jam. Tergantung kemampuan kita untuk menerjang tantangan dan rintangan yaitu mendaki bukit-bukit dan tentunya perjalanan ini sangat melelahkan namun sangat menyenangkan. Terbayar kelelahan yang kita rasa dengan panorama yang sungguh sangat indah.
Pada saat perjalan pertama kita akan melalu perkebunan. Banyak sekali yang ditanam yaitu kentang, sawi, bawang merah, ddl. Setelah itu kita akan melewati area yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang sangat tinggi yang tergolong Spermatophyta yaitu Gymnospermae dan Angiospermae. Golongan Gymnospermae disana aku menjumpai banyak pinus-pinusan. Untuk Angiospermae sangat banyak sekali bahkan ada tanaman berbunga yang masih belum aku kenal. Tak luput dari penglihatanku juga banyak macam Pteridophyta yang menjulang tinggi dan golongan Briophyta. Bahkan aku menjumpai lumut yang tumbuh menempel pada batang-batang pepohonan yang menjulang tinggi. Karena keadaan udara yang dingin dan tempat sangat lembab maka lumut dan tumbuhan-tumbuhan paku-pakuan dapat hidup subur disini. Apalagi bagi tumbuhan Spermathophyta (tumbuhan berbiji) dapat berkembang baik.
Sebelum sampai di Ranu Kumbolo, kita akan disuguhkan dengan Bukit Teletubies begitu aku dan teman-teman menyebutnya karena bukit itu luas nan hijau karena rumputnya. Namun sebenarnya itu adalah safana. waw Wonderfull. Setelah sampai di tempat terlihatlah ranu yang sangat luas, airnya tenang dan indah sekali “Ranu Kumbolo”. Disinilah kita bisa membuat tenda dan memasak makanan karena tempat ini aman dari binatang buas dan mamang tempat peristirahatan sebelum mendaki ke Semeru.
Di Barat Ranu Kumbolo ini terdapat bukit yang namanya Bukit Cinta. Mitos dari Bukit Cinta ini yaitu siapa yang berhasil mendaki ke Bukit Cinta ini bersama pasangannya tanpa menoleh ke belakang maka permintaan cintanya akan terkabul mungkin bisa menikah,hehehe....itu hanya mitos, terserah Anda percaya atau tidak. Maka tidak jarang seorang pemuda-pemudi mendaki bukit ini bersama-sama. Akupun telah mencobanya. Kalau penasaran, ayo! Selamat mencoba!
Setelah melalui Bukit Cinta ini kita akan melihat Gunung Semeru yang berdiri dengan gagah, indah sekali. Aku belum berani untuk mendakinnya, terlalu berbahaya aku rasa. Dari atas bukit cinta ini aku sudah sangat senang melihat ketampanan Gunung Semeru. Dan di atas bukit ini kita juga bisa melihat Ranu Kumbolo dari tempat yang tinggi dan hamparan rumput yang luas. Indah sekali. Ayo teman-teman cobalah ke tempat ini, wah dijamin kalian akan sangat senang dan puas karena dimanjakan dengan keindahan alam yang sungguh tiada duanya.

Kamis, 23 September 2010

IMPLEMENTASI BIOREMEDIASI

gambar Alyssum murale
(salah satu tanaman hiperakumulator)

Bioremediasi merupakan proses pembersihan pencemaran dengan menggunakan mikroorganisme, fungi, dan tumbuhan. Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun. Bioremediasi prinsipnya adalah membersihkan dari bahan pencemar dengan memanfaatkan kemampuan organisme atau menggunakan agen biologis. Proses utama pada bioremidiasi adalah biodegradasi, biotransformasi dan biokatalis.
Hal yang perlu diketahui dalam melakukan remediasi:
1. Jenis pencemar (organik atau anorganik),
2. terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,
3. Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari lingkungan tersebut,
4. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),
5. Jenis tanah,
6. Kondisi tanah (basah, kering),
7. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,
8. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).
Pada saat bioremediasi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun.
Pendekatan umum untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi/ biodegradasi adalah dengan cara:
i. seeding, mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan/atau penambahan mikroorganisme exogenous (bioaugmentasi)
ii. feeding, memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing)
Jenis-jenis bioremediasi yaitu
a. Biostimulasi
Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.
b. Bioaugmentasi
Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.
c. Bioremediasi Intrinsik
Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.

Pada bioremediasi di lingkungan yang tercemar minyak bumi. Yang pertama dilakukan adalah mengaktifkan bakteri alami pengurai minyak bumi yang ada di dalam tanah yang mengalami pencemaran tersebut. Bakteri ini kemudian akan menguraikan limbah minyak bumi yang telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan hidup bakteri tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat kandungan minyak akan berkurang dan akhirnya hilang, inilah yang disebut sistem bioremediasi.
Pada bioremediasi tanah melalui aplikasi fitoremediasi. Cara pembersihan zat pencemar organik lebih diarahkan melalui aplikasi tanaman (fitoremediasi). Fitoremediasi merupakan teknologi pembersihan, penghilangan atau pengurangan polutan berbahaya, seperti logam berat, pestisida, dan senyawa organik beracun dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman (hiperakumulator plant).
Tanaman yang digunakan menjadi lebih sering dikombinasikan dengan mikroba dalam menurunkan zat pencemar organik (jadi tidak semata mata tergantung mikroba). Akar tanaman/rhizosphere merupakan tempat yang secara alamiah menjadi rumah yang cocok bagi mikroba. Sehingga perbanyakan diri mikroba menjadi lebih terjamin pada perlakuan. Aplikasi ini pada lahan pencemaran terbuka sangat cocok. Selain sebagai rumah untuk perbanyakan mikroba, tanaman juga bertindak untuk mencegah terjadinya pencemaran air tanah. Perombakan dari organik menjadi anorganik-tidak jatuh ke air tanah, sehingga terjadi pencemaran air tanah. Contoh tanaman hiperakumulator antara lain :
Jenis Tanaman -- Unsur yang Diserap
Thlaspi caerulescens-- Zink (Zn) dan Kadmium (Cd)
Alyssum sp., Berkheya sp.,-- Sebertia acuminata Nikel (Ni)
Brassicacea sp.-- Sulfate
Pteris vittata, Pityrogramma calomelanos-- Arsenik (As)
Pteris vittata, Nicotiana tabacum, Liriodendron tulipifera.-- Mercuri (Hg)
Thlaspi caerulescens, Alyssum murale, Oryza sativa-- Senyawa organik (petroleum hydrocarbons, PCBs, PAHs, TCE juga TNT)
Brassica sp.-- Emas (Au)
Brassica juncea.-- Selenium (Se)

Proses Fitoremediasi ini adalah sebagai berikut:
1. Phytoacumulation : tumbuhan menarik zat kontaminan sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan
2. Rhizofiltration : proses adsorpsi / pengendapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar.
3. Phytostabilization : penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan.
4. Rhyzodegradetion : penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba
5. Phytodegradation : penguraian zat kontamin
6. Phytovolatization : transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya

Minggu, 05 September 2010

revolusi hijau

















REVOLUSI HIJAU

Revolusi hijau adalah usaha manusia dalam meningkatkan produksi pangan atau makanan dengan jalan melakukan pengembangan pada teknologi pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan dan kesejahteraan penduduk dunia. Bahan makanan atau pangan yang termasuk dalam revolusi hijau adalah yang termasuk dalam kelompok serelia atau sereal/cereal yaitu seperti beras, gandum, sagu, kentang, jagung, dan lain sebagainya.
Revolusi biru adalah usaha manusia dalam meningkatkan produksi pangan atau makanan dengan jalan meningkatkan produksi pangan yang berasal dari laut (sumber daya laut). Sumber daya laut dapat dibagi menjadi dua macam atau jenis antara lain ialah :
- sumber laut hayati / biotik, contohnya seperti tumbuhan laut seperti alga, plankton, rumput laut, dan lain sebagainya. Hewan laut seperti ikan, udang, cumi-cumi, gurita, sotong, kuda laut, kerang, dan lain-lain.
- sumber daya non hayati / abiotik, contohnya seperti garam mineral, energi laut, endapan nodul untuk bahan industri, dan lain sebagainya.

Dalam revolusi hijau terjadi pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan dengan cara mengubah dari pertanian tradisional menjadi pertanian yang menggunakan teknologi lebih maju.
Teknologi genetika memicu terjadinya Revolusi Hijau (green revolution) yang sudah berjalan sejak 1960-an. Di Indonesia revolusi hijau diintensifikasikan melalui pasca usaha tani yaitu dengan teknik pengolahan lahan pertanian, pengaturan irigasi, pemupukan, pemberantasan hama, penggunaan bibit unggul.
Dengan adanya gerakan revolusi hijau, produksi padi dan gandum di Indonesia meningkat sehingga pemenuhan pangan (karbohidrat) meningkat. Grakan ini berhasil menghantarkan Indonesia pada swasembada beras. Namun swasembada pangan tersebut hanya mampu bertahan dalam waktu lima tahun, yakni antara tahun 1984 – 1989. Disamping itu, Revolusi Hijau juga telah menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial pedesaan karena ternyata Revolusi Hijau hanyalah menguntungkan petani yang memiliki tanah lebih dari setengah hektar dan petani kaya di pedesaan, serta penyelenggara negara di tingkat pedesaan. Sebab sebelum Revolusi Hijau dilaksanakan, keadaan penguasaan dan pemilikan tanah di Indonesia sudah timpang, akibat dari gagalnya pelaksanaan Pembaruan Agraria yang telah mulai dilaksanakan pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1965. Pertanian revolusi hijau juga dapat disebut sebagai kegagalan karena produknya sarat kandungan residu pestisida dan sangat merusak ekosistem lingkungan dan kesuburan tanah.

Permasalahan yang muncul akibat dari revolusi hijau adalah sebagai berikut:
a. Penurunan produksi protein, dikarenakan pengembangan serealia (sebagai sumber karbohidrat) tidak diimbangi pengembangan pangan sumber protein dan lahan peternakan diubah menjadi sawah.
b. Penurunan keanekaragaman hayati.
c. Makanan dan minuman hasil pertanian yang mengandung residu pestisida tidak baik untuk kesehatan dan pada jangka panjang dapat menyebabkan kanker.
d. Bahan kimia sintetik yang digunakan dalam pertanian, pupuk misalnya telah merusak struktur kimia dan biologi tanah.
e. Tanah mengandung residu (endapan pestisida)
f. Penggunaan pupuk buatan secara terus-menerus akan mempercepat habisnya zat-zat organik, merusak keseimbangan zat-zat makanan di dalam tanah sehingga menimbulkan berbagai penyakit tanaman. Akibatnya, kesuburan tanah di lahan-lahan yang menggunakan pupuk buatan dari tahun ke tahun terus menurun.
g. Penggunaan pupuk terus menerus menyebabkan ketergantungan tanaman pada pupuk.
h. Penggunaan pestisida menyebabkan terjadinya peledakan hama. Suatu keadaan yang kontradiktif dengan tujuan pembuatan pestisida karena pestisida dalam dosis berlebihan menyebabkan hama kebal.
i. Penggunaan pestisida mengakibatkan kematian musuh alami hama yang bersangkutan.
j. Bahan pestisida merusak ekosistem dan habitat beberapa binatang tertentu.

Revolusi Hijau bahkan telah mengubah hakekat petani dimana sebelumnya petani bekerja mengembangkan budaya tanam dengan memanfaatkan potensi alam untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Namun dalam revolusi hijau, petani tidak boleh membiakkan benih sendiri. Bibit yang telah disediakan merupakan hasil rekayasa genetika, dan sangat tergantung pada pupuk dan pestisida kimia yang membuat banyak petani terlilit hutang. Akibat terlalu menjagokan bibit padi unggul, sekitar 1.500 varietas padi lokal telah punah dalam 15 tahun terakhir ini.
Meskipun dalam Undang-Undang No. 12/1992 telah disebutkan bahwa “petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan pembudi-dayaannya”, tetapi ayat tersebut dimentahkan lagi oleh ayat berikutnya, yakni “petani berkewajiban berperan serta dalam mewujudkan rencana pengembangan dan produksi budidaya tanam” (program pemerintah). Dengan begitu, kebebasan petani tetap dikebiri oleh rezim pemerintah.
Dengan demikian telah terbukti bahwa penerapan Revolusi Hijau di Indonesia memberi dampak negatif pada lingkungan karena penggunaan pestisida dan pupuk kimia dan Revolusi Hijau di Indonesia tidak selalu mensejahterakan petani padi

Jumat, 16 Juli 2010

BELAJAR DARI KUPU-KUPU


Berasal dari seorang motivator dan semoga bisa lebih memotivasi teman-teman...

”Suatu hari, Muncul celah kecil pada sebuah kepompong; seorang pria duduk dan memperhatikan calon kupu2 tsb berjuang keras selama berjam2 untuk mendorong tubuhnya keluar melalui lobang kecil tersebut.”
Kemudian, tampaknya usaha tsb sia sia, berhenti dan tidak ada perkembangan yang bararti.
Seolah olah terlihat usaha tersebut sudah mencapai satu titik , dimana tidak bisa berkelanjutan.
Maka, pria itu memutuskan untuk membantu kupu2 itu.
Dia mengambil sebuah gunting dan membuka kepompong itu.Kemudian kupu2 itu keluar dengan sangat mudahnya
Tapi apa yg terjadi? Kupu2 itu memiliki tubuh yg tidak sempurna. Tubuhnya kecil dan sayapnya tidak berkembang
Pria itu tetap memperhatikan dan berharap , tidak lama lagi, sayap tersebut akan terbuka, membesar dan berkembang menjadi kuat untuk dapat mendukung badan kupu2 itu sendiri.
Semua yg diharapkan pria itu tidak terjadi !
Kenyataanya, kupu kupu tersebut malah menghabiskan seluruh hidupnya merayap dengan tubuhnya yg lemah dan sayap yg terlipat.
Kupu kupu tsb tidak pernah bisa terbang
Apa yang pria itu lakukan, dengan segala kebaikan dan niat baiknya, dia tidak pernah mengerti, bahwa perjuangan untuk mengeluarkan badan kupu2 dari kepompong dengan cara mengeluarkan seluruh cairan dari badannya adalah suatu proses yang dibutuhkan, sehingga sayapnya dapat berkembang dan siap untuk terbang begitu keluar dari kepompong tersebut,sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh TUHAN.
Seringkali, Perjuangan adalah sesuatu yg kita butuhkan dalam hidup ini
Jika TUHAN memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan,hal ini akan membuat kita lemah.. Kita tidak akan sekuat seperti apa yang kita harapkan, dan tidak akan pernah terbang seperti kupu2 itu.
Kita meminta Kekuatan...dan TUHAN memberi kita kesulitan untuk kita hadapi dan membuat kita menjadi kuat.
Kita meminta kebijaksanaan...dan TUHAN memberikan kita masalah2 yg harus kita pecahkan.
Kita meminta kemakmuran...dan TUHAN memberikan otak dan kekuatan untuk bekerja.
Kita meminta Keberanian...dan TUHAN memberi kita rintangan untuk kita hadapi.
Kita meminta Cinta...dan TUHAN memberikan orang2 yg dalam kesulitan untuk kita bantu.
Kita meminta pertolongan...dan TUHAN memberi kita kesempatan
“ Kita tidak menerima apa yang kita inginkan....,
Tapi kita menerima apa yang kita butuhkan. "
Jalanilah hidup tanpa ketakutan, hadapi semua masalah dan yakinlah bahwa kita dapat mengatasi semua itu.

Kamis, 06 Mei 2010

wanita lembut


Minggu, 12 Juli 2009

Wanita....

Wanita adalah sosok yang komplit, berhati lembut, pengertian, mudah tersentuh adanya keadaan yang terjadi di luar makanya wanita sering disebut sensitif. Aku merasakan hal itu kali ini. Aku sungguh sangat iba terhadap keadaan dunia saat ini. Di zaman sekarang ini, kita sangatlah sulit menemukan seseorang yang baik. Bisa saja orang itu baik dimata kita namun sebenarnya dia sedang menipu kita. Lihatlah di tayangan televisi, tiap hari diberitakan khasus penipuan. Ya Allah mengapa keadaan umatmu sekarang demikian.

Kali ini aku seperti merasakannya, di kehidupannku...
Cobalah engkau memahami seorang wanita dari sisi wanita itu sendiri...


Rabu, 05 Mei 2010

PERCOBAAN AVERY–MACLEOD–MCCARTY

Percobaan Avery–MacLeod–McCarty menunjukkan adanya bukti bahwa DNA dapat mentrasformasi bakteri. Avery–MacLeod–McCarty melanjutkan penelitian yang dilakukan oleh Frederick Griffith sebelumnya.


Pada tahun 1928, Frederick Griffith, seorang petugas kesehatan berasal dari Inggris yang mempelajari Streptococcus pneumoniae, suatu bakteri ysng menyebabkan penyakit pneumonia pada mamalia. Percobaan Frederick Griffith adalah salah satu percobaan pertama yang menunjukkan bahwa bakteri dapat memindahkan informasi genetik melalui proses yang disebut transformasi.


Griffith menggunakan dua galur Pneumococcus (yang menginfeksi tikus), galur tipe III-S dan tipe II-R. Galur III-S memiliki kapsul polisakarida yang membuatnya tahan terhadap sistem kekebalan inangnya sehingga mengakibatkan kematian inang, sementara galur II-R tidak memiliki kapsul pelindung tersebut dan dapat dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh inang. Dalam eksperimen ini bakteri galur III-S dipanaskan hingga mati, dan sisa-sisanya ditambahkan ke bakteri galur II-R. Meskipun tikus tidak akan mati bila terkena baik sisa-sisa bakteri galur III-S (yang sudah mati) ataupun galur II-R secara terpisah, gabungan keduanya mengakibat kematian tikus inang. Griffith berhasil mengisolasi baik galur pneumococcus II-R hidup maupun III-S hidup dari darah tikus mati ini. Griffith menyimpulkan bahwa bakteri tipe II-R telah tertransformasikan menjadi galur III-S oleh sebuah prinsip transformasi.


Prinsip pentransformasi yang diamati oleh Griffith adalah DNA bakteri galur III-S. Meskipun bakteri itu telah mati, DNA-nya bertahan dari proses pemanasan dan diambil oleh bakteri galur II-R. DNA galur III-S mengandung gen yang membentuk kapsul perlindungan. Dilengkapi dengan gen ini, bakteri galur II-R menjadi terlindung dari sistem kekebalan inang dan dapat membunuhnya.



Penelitian Griffith tersebut menjadi titik awal bagi sebuah penelitian untuk mencari identitas substansi pentransformasi yang dilakukan oleh ahli bakteriologi Amerika Oswald Avery. Ia memurnikan berbagai macam zat kimia dari bakteri-bakteri patogenik yang telah dimatikan dengan panas, kemidian mencoba mentransformasikan bakteri nonpatogenik hidup dengan setiap zat kimia. Hanya DNA yang mampu melakukannya.


Pada percobaan Avery, MacLeod, dan McCarty mengkulturkan galur IIIS dalam jumlah volume yang besar, kemudian mengendapkannya dengan sentrifugasi dan mensuspensikannya kembali menjadi volume yang lebih kecil untuk memudahkan penanganan berikutnya. Sel-sel ini kemudian dimatikan dengan pemanasan. Setelah dilakukan pencucian dan ekstraksi dengan detergen, sebagian filtrat yang dihasilkan digunakan untuk transformasi dengan mencampurnya dengan sel hidup galur IIR. Ternyata filtrat ini masih mampu menginduksi transformasi. Sebagian filtrat lagi dibuang proteinnya, dan sebagian lagi dibuang polisakaridanya, dan sebagian lagi dibuang protein dan polisakaridanya. Filtrat-filtrat ini masih aktif menginduksi proses transformasi. Setelah pembuangan protein dan polisakarida, filtrat ini dipresipitasikan dengan etanol dan didapatkan benang-benang asam nukleat yang masih mempunyai kemampuan untuk menginduksi transformasi.


Untuk mengkonfirmasi hasil tersebut, filtrat dari sel IIIS yang telah dimatikan diperlakukan dengan protease (suatu enzim yang dapat menghancurkan protein), dan RNase (suatu enzim yang dapat menghancurkan molekul RNA) secara terpisah, kemudian dicampur dengan sel galur IIR. Pencampuran ini masih menghasilkan bakteri galur IIIS, yang berarti bahwa protein dan RNA bukan merupakan bahan untuk transformasi (transforming principle). Percobaan lainnya adalah dengan menambahkan DNase (suatu enzim yang dapat menghancurkan molekul DNA) pada filtrat dari sel IIIS. Filtrat yang telah dicampur dengan DNase ini ternyata tidak mampu menghasilkan sel IIIS bila dicampur dengan sel IIR, yang berarti tidak mampu menginduksi transformasi. Dari hasil percobaan ini, Avery, MacLeod, dan McCarty tidak ragu lagi untuk menyatakan bahwa DNA adalah bahan utama untuk transformasi.


Bahan utama untuk transformasi berinteraksi dengan sel IIR yang menimbulkan berbagai reaksi enzimatik yang berakhir dengan sintesis kapsul polisakarida tipe IIIS. Bila transformasi telah berlangsung, kapsul polisakarida akan disintesis terus pada generasi berikutnya, dan bahan utama untuk transformasi digandakan pada sel-sel anaknya. Oleh sebab itu transformasi merupakan proses yang mempengaruhi bahan genetik dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya.


Akhirnya pada tahun 1944, Avery dan koleganya Colin MacLeod dan Maclyn McCarty mengumumkan bahwa agen pentransformasi tersebut adalah DNA. Oswald Avery, Colin MacLeod, dan Maclyn McCarty membuktikan bahwa DNA adalah material yang diturunkan yang dipunyai hampir semua organisme.


Senin, 03 Mei 2010

DNA DAN RNA GENOM

Sel mempunyai dua jenis molekul asam nukleat yaitu DNA (asam deoksiribonukleat) dan RNA (asam ribonukleat). DNA menyimpan informasi genetik yang spesifik untuk setiap individu dan spesies tertentu, yang akan diwariskan ke generasi berikutnya. Semua sel menggunakan sistem dimana informasi yang terdapat dalam DNA di copy menjadi RNA dan kemudian dirubah menjadi protein oleh mesin molekul yang disebut ribosom.


Struktur kimia molekul DNA adalah polinukleotida, demikian pula halnya molekul RNA. Pada molekul-molekul DNA mauun RNA memang terdapat unit yang disebut nukleotida. Nukleotida pada DNA maupun RNA memang terdapat unit yang disebut nukleotida. Nukleotida pada DNA maupun RNA terdiri dari tiga bagian basa nitrogen, gula, dan asam fosfat.


Gula pada nukleotida DNA adalah deoksiribosa sedangkan pada RNA adalah ribosa. Pada nukleotida DNA tidak ada basa urasil, sedangkan basa timin tidak ada pada nuleotida RNA. Biasanya molekul DNA terdiri dari helix ganda polinukleotida, sedangkan molekul RNA merupakan satu unting polinukleotida. Antara kedua unting polinukleotida DNA terdapat ikatan hidrogen. Ikatan hidrigen itu menghubungkan basa-basa yang komplementer antara adenin dan timin serta antara guanin dan sitosin.








Gambar 1. Struktur primer DNA dan RNA













Gambar 2. Struktur Purin dan Pyrimidin (Adenin dan Guanin; Cytosin, Tymin dan Urasil)


Pada struktur helix ganda antara basa adenin dan timin terdapat dua ikatan hidrogen, sedangkan antara basa guanin dan sitosin terdapat tiga ikatan hidrogen. Sehingga dalam molekul DNA jumlah basa G akan selalu sama dengan jumlah basa C, sedangkan jumlah basa A sama dengan T. Kemudian jumlah basa purin (A + G) akan sama dengan jumlah basa pyrimidin (C + T). Kedua untai DNA saling berkomplementasi melalui basa penyusunnya dengan arah antiparalel (berlawanan 5’→ 3’ vs 3’→5’), ujung yang mengandung gugus fosfat bebas disebut ujung 5’ sedangkan pada ujung lainnya yang mengandung gugus hidroksil bebas disebut ujung 3’. Kedua untai tersebut saling melilit satu sama lain membentuk struktur heliks ganda. Gugus fosfat dan gula yang tersusun bergantian menjadi tulang punggung (backbone) molekul DNA sementara pada bagian dalam terdapat basa yang melekat pada molekul gula.




Gambar 3. Struktur double heliks DNA

Rantai RNA berbentuk untai tunggal sehingga tidak membentuk struktur heliks yang teratur seperti DNA. Walaupun demikian RNA mungkin bisa membentuk struktur sekunder dan tersier karena pasangan basa bisa terbentuk pada daerah yang membentuk loops. Terdapat tiga tipe molekul RNA dalam sel, yaitu mRNA, tRNA dan rRNA. Molekul mRNA mengandung urutan nukleotida yang akan mengode urutan asam amino dari protein pada proses translasi.